Sejatinya menghadap ke mana pun, kita melihat kebesaran Allah yang membuat kita menyebut nama-Nya. Bukan hanya di Ka‘bah, tapi juga di gubuk-gubuk orang miskin, di rumah-rumah yatim, bahkan di lembaga pemasyarakatan. Masjid bisa roboh, Ka‘bah bisa sepi, tapi hati manusia yang beriman akan abadi dalam ketaatan dan kecintaan pada-Nya.
“Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, maka dekati dia dengan rayuan yang begitu romantis. Sebab amal kita bukanlah ‘alat tukar’ untuk surga, melainkan hanya Rahmat-Nya yang membawa kita ke surga.” Mungkin pernah terlintas dalam benak Grameds – jika Tuhan Maha Pengasih, lantas masihkah kita perlu merayu-Nya? Maka jawabannya tentu saja perlu, dan memang hanya itulah cara kita agar …